Andai
aku menjadi seorang menteri perekonomian? Judul tulisan ini membuat saya harus
sejenak berandai-andai menjadi seorang menteri perekonomian. Tentu bukan hal
yang mudah. Menjadi menteri merupakan sebuah tanggung jawab yang cukup besar,
karena mengemban suatu jabatan public dalam suatu pemerintahan. Harus memiliki
kemampuan lebih dalam bidang yang bersangkutan guna memajukan perekonomian yang
menjadi lebih baik lagi. Sebelum berandai-andai lebih jauh, ada baikmya kita
mengetahui terlebih dahulu kondisi perekonomian di Indonesia saat ini dan juga
masalah-masalah perekonomian yang pernah terjadi di Indonesia.
Kondisi
perekonomian kita dari dulu hingga sekarang masih sangat lemah. Dimulai pada
tahun penjajahan sebelum merdeka banyak daerah kepulauan kita dijajah oleh
penjajah, sehingga membuat rakyat kita miskin dan melarat. Banyak juga rakyat
kita yang dijadikan budak oleh para penjajah tanpa diberikan bayaran dan
istirahat yang cukup. Kemudian kita ke zaman setelah kemerdekaan, masih dalam
ekonomi yang lemah menuju kepada perkembangan ekonomi sampai zaman orde baru. Setelah
zaman orde baru berjalan dalam beberapa dekade baru dapat memajukan ekonomi
bangsa kita. Dan jatuh lagi pada akhir tahun 1998 dengan ditandai krisis
ekonomi global, diamana banyak perusahaan swasta maupun perusahaan negara
mengalami kebangkrutan dan pemutusan hubungan kerja sehingga banyak
pengangguran pada saat itu.
Hampir
setiap negara banyak mengalami masalah dalam membangun ekonomi negaranya,
termasuk di Indonesia. Dari dulu masalah yang selalu ada dalam ekonomi kita
adalah kurangnya pemahaman masyarakat tentang ekonomi modern menyangkut
permodalan besar yang berhubungan dengan perbankan, seperti kredit dan
peminjaman. Sehingga menghambat perkembangan ekonomi negara kita. Masalah selanjutnya
tentang sumber daya manusia yang kurang (SDM). Mengapa demikian? Karena kurangnya
masyarakat yang mendapatkan pendidikan yang bagus dan layak serta mahalnya
biaya pendidikan bagi masyarakat kelas bawah. Sehingga mengakibatkan kurangnya
sumber daya manusia yang bermutu dan mengakibatkan trerhambatnya pertumbuhan
ekonomi jangka panjang. Karena dengan kurangnya pendidikan mengakibatkan
kurangnya pemahaman masyarakat akan ekonomi modern dan menciptakan lapangan
kerja sendiri. Masalah yang ketiga adalah inflasi dimana tingkat mata uang
negara asing melonjak tinggi. Inflasi tidak hanya ditandai dengan tingkat mata
uang asing, namun dapat juga ditandai dengan meningkatnya harga suatu barang
namun persediaan barang tersebut hanya sedikit. Masalah yang keempat dan yang
paling utama pada saat ini adalah korupsi, dimana para menteri kita semakin
banyak lebih mementingkan kehidupannya sendiri di bandingkan kesejahteraan
rakyatnya.
Kita
kembali lagi ke topik utama , Jika aku menjadi menteri perekonomian? Suatu
impian yang sangat besar yang semua orang impikan, mengapa? Banyak hal yang
seseorang inginkan dalam hidup ini, namun bagaimapun itu setiap orang wajib
berusaha keras untuk memenuhi keinginanya. Jika saya menjadi seorang menteri
perekonomian di Indonesia mungkin itu suatu tanggungjawab yang sangat berat
yang harus saya pikul, mengapa? Karena tugas utama sebagai seorang menteri
adalah mensejahterakan rakyatnya.
Banyak
menteri-menteri kita yang lupa akan tugas utama sebagai seorang menteri. Mereka
lebih mengutamakan kehidupannya masing-masing. Apakah hal ini disebut menteri
yang sesungguhnya? Jika saya menjadi seoarang menteri perekonomian hal yang
pertama yang akan saya lakukan saya akan berusaha untuk selalu mensejahterakan
rakyat, terutama rakyat-rakyat kecil yang banyak di daerah yang kurang
terjangkau dimata kita semua. Dengan memberikan kredit lunak dan pemahaman tentang
bagaimana cara mendirikan usaha kecil dan dapat menciptakan lapangan kerja bagi
masyarakat di sekitarnya. Sehingga dapat membantu meningkatkan ekonomi bangsa Indonesia.
Memang menjadi seorang menteri itu tidak
mudah. Kita harus selalu menahan ego serts hawa nafsu kita sendiri. Tapi
dibalik itu semua kita bisa merubah sedikit ekonomi kita dengan cara tersebut.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar